Kelas Jurnalisme AJI Palembang Bahas Strategi Distribusi Liputan Energi di Media Sosial

Palembang, 31 Juli 2025 — Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palembang menggelar Pelatihan Jurnalisme Transisi Energi bertema “Jurnalisme Energi: Pendalaman Isu dan Penguatan Hasil Liputan di Media Sosial”, bertempat di Fave Hotel Palembang, Kamis (31/7).
Kegiatan ini digelar bekerja sama dengan Yayasan Mitra Hijau dan diikuti oleh 30 jurnalis terpilih dari berbagai media cetak, daring (online), radio, dan komunitas jurnalis di Sumatera Selatan.
Selama sehari penuh, peserta dibekali dengan materi substantif dan pelatihan praktik untuk memperdalam peliputan isu energi, terutama dalam konteks transisi energi yang adil dan berkelanjutan.

“Transisi energi bukan hanya soal mengganti batu bara dengan energi terbarukan. Ini menyangkut nasib ekonomi lokal, konflik lahan, lingkungan hidup, hingga masa depan pekerja. Jurnalis harus mampu menggali sisi-sisi ini secara mendalam dan mengedukasi publik,” ujar M. Fajar Wiko, Ketua AJI Palembang dalam sambutannya.

Tiga narasumber utama hadir dalam pelatihan ini, yakni: Dr. Doddy S. Sukadri – Direktur Eksekutif Yayasan Mitra Hijau; Hari Wibawa – Kabid Perekonomian dan Pembangunan Bappeda Sumsel (mewakili Kepala Bappeda, Regina Ariyanti); dan Yudi Thirzano – Pemimpin Redaksi Tribun Sumsel.
Dalam paparannya, Dr. Doddy menyoroti dampak perubahan iklim global yang telah nyata terlihat, termasuk di Indonesia. Ia menekankan pentingnya langkah mitigasi dan adaptasi yang berbasis riset, kebijakan, serta partisipasi masyarakat.
Sementara itu, Hari Wibawa menyampaikan bahwa Provinsi Sumatera Selatan masih sangat bergantung pada sektor energi fosil, khususnya batubara, yang menyumbang sekitar 24% PDRB namun hanya menyerap 2,26% tenaga kerja.
Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah telah menyusun arah kebijakan transisi energi, namun tetap membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan media.
Sedangkan Yudhi Thirzano menekankan pentingnya peliputan transisi energi yang tajam dan kontekstual. “Liputan energi bukan hanya soal data produksi. Jurnalis harus mampu menggambarkan dampaknya terhadap masyarakat, lingkungan, dan
keadilan dalam distribusi energi,” ujarnya.
Usai paparan, peserta mengikuti sesi diskusi kelompok dan workshop penyusunan ide liputan. Mereka juga dilatih untuk memperkuat distribusi hasil liputan melalui media sosial agar pesan-pesan penting soal transisi energi dapat menjangkau audiens yang lebih luas.
Dalam kesimpulannya, fasilitator kelas jurnalisme, Tasmalinda menekankan, transisi energi di Sumsel adalah keniscayaan yang harus dikelola secara adil (just transition). Potensi energi baru dan terbarukan (EBT) mencapai 21.032 MW, namun yang terpasang baru sekitar 4,8%.
“Ini menunjukkan perlunya akselerasi pemanfaatan EBT melalui dukungan kebijakan, pendanaan, teknologi, serta keterlibatan media,” ujarnya. (Ril)
Narahubung:
M. Rangga Erfizal – 0812-4998-1139
Artikel Terkini

AJI Palembang Gelar Pelatihan Keamanan Digital, Antisipasi Ancaman Terhadap Jurnalis

Komite Keselamatan Jurnalis: Serangan Terhadap Website Project Multatuli, Membungkam Kritik dan Menciderai Kebebasan Pers

Aksi Doa dan Penyalaan Lilin dari Tokoh Lintas Agama dan Para PRT Korban

Website Project Multatuli Diserang Setelah Merilis Laporan Kasus Pencabulan di Baubau

Ruang sipil di Indonesia diperingkat ‘terhalang’ menurut laporan yang mengemukakan peningkatan pembatasan kebebasan sipil di Asia

SIEJ Kecam Intimidasi Massa ke Teropong News Karena Beritakan Illegal Loging